Jumat, 30 Desember 2016

MasyaAllah.. Dosa Berguguran Dengan Memegang Tangan Istri - Bantu SHARE

MediandaTerkini – Sahabat medianda terkini Ketika seseorang memutuskan untuk menikah tentu harapan keluarga baru tersebut ialah menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Namun terkadang apa yang kita harapkan tidak sesuai dengan kenyataan. Sebuah keluarga bisa barakah jika di dalamnya ada sakinah. Mereka merasakan ketenteraman. Dalam keadaan diguncang kesulitan atau dikarunia kesuksesan, suami dan istri merasakan ketenteraman saat berdekatan. Ketika suami datang dengan wajah kusam berlipat-lipat, istri memberi sambutan hangat bersemangat. Wajahnya tetap teduh dan penuh perhatian sehingga suami semakin sayang. Jika Anda memiliki istri demikian, bersyukurlah. Anda sudah mendapatkan kunci kebahagiaan.




“Tiga kunci kebahagiaan seorang laki-laki adalah istri shalihah yang jika dipandang membuatmu semakin sayang dan jika kamu pergi membuatmu merasa aman, dia bisa menjaga kehormatanmu, dirinya dan hartamu; kendaraan yang baik yang bisa mengantar ke mana kamu pergi; dan rumah yang damai yang penuh kasih sayang.

Tiga perkara yang membuatnya sengsara adalah istri yang tidak membuatmu bahagia jika dipandang dan tidak bisa menjaga lidahnya juga tidak membuatmu merasa aman jika kamu pergi karena tidak bisa menjaga kehormatan diri dan hartamu; kendaraan rusak yang jika dipakai hanya membuatmu merasa lelah namun jika kamu tinggalkan tidak bisa mengantarmu pergi; dan rumah yang sempit yang tidak kamu temukan kedamaian di dalamnya.”

Baca Juga Rumah Tangga Tanpa Adanya Problema Adalah Sebuah Kemustahilan

Jika keluarga Anda penuh barakah dan Allah melimpahkan barakah atas keluarga Anda, maka Anda akan mendapati rumah tangga yang diliputi oleh mawaddah wa rahmah (ketulusan cinta dan kasih-sayang). Jika suami resah, ada pangkuan istri yang siap merengkuh dengan segenap perasaannya. Jika istri gelisah, ada suami yang siap menampung air mata dengan dekapan hangat di dada, serta usapan tangan yang memberi ketenteraman dan perlindungan.

Tanpa adanya sakinah, mawaddah wa rahmah, keluarga sulit mencapai barakah dan penuh dengan kebarakahan. Suami-istri tidak bisa saling mencurahkan kasih-sayang secara penuh. Mereka tidak bisa saling menerima, mempercayai dan memaafkan kekurangan-kekurangan, padahal setiap manusia selalu punya kekurangan. Di sini keluarga dipenuhi oleh keluh-kesah dan kekecewaan.


Bukan oleh keadaan ekonomi, melainkan oleh ketidakpuasan terhadap teman hidupnya beserta keluarganya. Sehingga interaksi antar keduanya menjadi kering, sangat periferal. Bukan dari hati ke hati, sehingga saling merindukan. Pergi tiga hari saja tidak ditunggu-tunggu kedatangannya. Apalagi sekadar terlambat pulang satu atau dua jam.

Dalam keadaan yang demikian, keluarga tidak menjadi tempat terbaik untuk membesarkan anak dan menumbuhkan kekuatan jiwa mereka. Rumah menjadi tempat yang sempit, sehingga anak-anak dan suami tidak menemukan kedamaian di dalamnya. Meskipun secara fisik, rumah cukup besar dan megah.

Maka, bila Anda mendo’akan barakah, insya-Allah Anda juga mendo’akan sakinah, mawaddah wa rahmah bagi keluarga yang akan dibangun oleh pengantin baru itu. Anda juga mendo’akan mereka mendapatkan keturunan yang barakah. Biar anak banyak asal barakah, sungguh sangat alhamdulillah.

Mendo’akan barakah sama seperti halnya dengan menyuruh shalat. Jika Anda menyuruh saya melakukan shalat, berarti Anda juga menyuruh saya untuk berwudhu atau malah mandi jinabah jika saya sedang berhadast besar. Karena, tidak bisa saya melakukan shalat jika saya berhadas.

Jika Anda menganjurkan saya shalat dengan khusyuk dan tenang, berarti Anda juga menganjurkan saya menghilangkan perintang-perintang ketenangan. Anda tetap bisa shalat, tetapi ketika isya’ itu perut Anda melilit-lilit shalat Anda tidak bisa tenang. Karena itu makanlah lebih dulu. Semoga shalat Anda lebih sempurna.

Tetapi kalau Anda menyuruh seseorang mandi, tidak secara otomatis menyuruh seseorang itu shalat. Begitu juga kalau Anda mendo’akan banyak anak, belum tentu barakah. Malah anak bisa menjadi fitnah yang menyusahkan orangtua dunia akhirat.

Ini tidak berarti Anda tidak boleh meraih kesenangan dan bercanda dengan anak istri. Malah sebagaimana ditunjukkan di awal tulisan ini, kita banyak ditunjukkan dan “diperintahkan” untuk memperoleh kesenangan-kesenangan itu. Bahkan, berjima’ pun bernilai ibadah.

Jika Anda berhubungan 1nt!m, Anda akan mendapat pahala shalat Dhuha. Jika Anda meremas-remas jemari istri dengan remasan sayang, dosa-dosa Anda berdua berguguran. Jika Anda menyenangkan istri sehingga hatinya bahagia dan diliputi suka cita, Anda hampir sama dengan menangis karena takut kepada Allah. Subhanallah. Maha Suci Allah. Ia memberi keindahan. Ia juga memberi pahala dan ridha-Nya.

“Barangsiapa menggembirakan hati seorang wanita (istri), “kata Rasulullah Saw., ” seakan-akan menangis karena takut kepada Allah. Barangsiapa menangis karena takut ke-pada Allah, maka Allah mengharamkan tubuhnya dari neraka.”

“Sesungguhnya ketika seorang suami memperhatikan istrinya dan istrinya memperhatikan suaminya,” kata Nabi Saw. menjelaskan, “maka Allah memperhatikan mereka berdua dengan perhatian penuh rahmat. Manakala suaminya merengkuh telapak tangannya (diremas-remas), maka bergu-guranlah dosa-dosa suami-istri itu dari sela-sela jari-jema-rinya.” (Diriwayatkan Maisarah bin Ali dari Ar-Rafi’ dari Abu Sa’id Al-Khudzri R.A.).

Bahkan, pahala yang didapatkan ketika bers3tubuh dengan istri bisa mencapai tingkat pahala mati terbunuh dalam perang di jalan Allah. Nabi kita Muhammad al- ma’shum bersabda, “Sesungguhnya seorang suami yang mencampuri istrinya, maka pencampurannya (jima’) itu dicatat memperoleh pahala seperti pahala anak lelaki yang berperang di jalan Allah lalu terbunuh.”

Mengenai hadist yang disebut terakhir ini, saya tidak menemukan keterangan lebih lanjut. Namun dari berbagai hadist tentang jima’ dan bercvmbu, kita mendapati bahwa keduanya adalah merupakan sesuatu yang dihormati dan bagi yang melakukannya secara sah, Allah memberi pahala yang besar. Bahkan, orang yang meninggalkan jima’ bisa “keluar dari Islam” (tidak termasuk ummat Muhammad) manakala tindakannya menyebabkan suami atau istri mengalami penderitaan.

Wallahu A’lam bishawab.

Semoga bermanfaat.


Sumber: beritaislamterbaru.org

INGAT..!!! Jangan Pernah Lupa, Bahwa Shalat Adalah Solusi Terbaik Untuk Menenangkan Jiwa

MediandaTerkini – Sahabat medianda terkini Sebagai ummat muslim tentu shalat adalah merupakan ritual untuk mendekatkan diri pada sang pencipta Allah Swt. Shalat adalah merupakan sarana yang paling efektif untuk menyegarkan jasmani dan menenangkan jiwa. Masalahnya, shalat yang dilaksanakan oleh kebanyakan kaum muslimin belum sebagaimana mestinya. Orang yang setelah melaksanakan shalat seolah-olah tidak memperoleh kesan apa-apa. Antara sebelum dan sesudah shalat tidak ada bedanya. Bahkan antara orang yang shalat dan yang tidak juga mirip-mirip saja. Itulah barangkali yang menyebabkan orang tidak lagi tertarik mengkaji manfaat shalat, kecuali sebatas kewajiban yang harus ditunaikan saja. Ini tantangan yang mesti kita jawab. Bukan dengan banyak-banyakan argumentasi. Bukan dengan adu konsep dan dalil yang mendetail. Kita perlu bukti. Hanya dengan bukti nyata, baru orang akan melirik kembali potensi shalat yang selama ini ditelantarkan ummatnya.



Soal ketenangan jiwa ialah janji Allah yang sudah pasti akan diberikan kepada orang yang shalat. Ada jaminan yang pasti bahwa orang yang benar dalam shalatnya bakal memperoleh ketenangan ini. Allah berfirman:

“Tegakkan shalat untuk mengingat-Ku.”(Qs. Thaha: 14) “Ketahuilah, dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang.” (Qs. Ar-Ra’du: 28)

Hati bisa tenang jika mengingat dan dzikir kepada Allah, sedang sarana berdzikir yang paling efektif ialah shalat. Tentu bukan sembarang shalat. Sebagaimana dalam ayat di atas, perintah Allah ialah tegakkan, bukan laksanakan.

Mendirikan shalat beda dengan sekadar melaksanakan. Mendirikan shalat memiliki kesan adanya suatu perjuangan, keseriusan, kedisiplinan, dan konsentrasi tingkat tinggi. Apabila hanya sekadar melaksanakan, tidak perlu susah payah, cukup santai asal terlaksana. Itulah sebabnya Allah memilih kata perintah “aqim” yang berarti dirikan, tegakkan, luruskan.

Kenyataannya tidak demikian, banyak di antara kaum muslimin yang melaksanakan shalat namun tidak menegakkannya. Bagi mereka pokoknya shalat, kewajiban gugur lepas dari ancaman siksa, dan menunggu pahala. Cukup. Andai ada sensus tentang pelaksanaan shalat ini, maka dapat dipastikan bahwa bagian terbesar ummat Islam adalah merupakan golongan ini.

Kondisi ini sungguh memprihatinkan. Sayang belum banyak pemimpin dan ulama yang menganggap perlu menjelaskannya kepada ummat islam. Apabila mengkaji shalat, maka yang paling banyak mendapat perhatian ialah seputar kaifiyatush-Shalat, yang tidak berkutat dari masalah fiqh. Lebih parah lagi jika mereka berhenti mengkaji hanya pada masalah-masalah khilafiyah. Bukan untuk mencari penyelesaian, tapi malah memperlebar jarak perbedaan, mempertajam pertentangan, dan merusak kesatuan.

Kenapa kajian kita terhadap masalah-masalah ibadah, khususnya shalat, tidak kita perlebar dan perdalam hingga menyentuh pokok-pokok pesan dan inti persoalan? Kenapa hanya sebatas kulit, tidak sampai pada daging dan tulangnya?

Sayang, pelajaran di sekolah tentang shalat tidak lebih dari pengulangan, bukan pendalaman. Sebatas pada pelajaran, bukan penghayatan. Falsafah shalat, yang semestinya diberikan ternyata tidak, hingga kaum muslimin menjalankan ibadahnya sebatas sebagai tradisi saja.

Apabila pelaksanaan shalat sudah semata-mata berdasar tradisi, berarti shalat itu kosong tanpa isi. Ibarat tubuh tanpa nyawa. Ibarat bungkus tanpa isi. Apa artinya shalat yang demikian? Dalam hal ini Rasulullah menjawab melalui sabdanya: “Berapa banyak orang yang melaksanakan shalat, keuntungan yang diperoleh dari shalatnya, hanyalah capai dan payah saja.” (HR. Ibnu Majah)

Sahabat medianda terkini wajib bagi kita mengikuti tata cara shalat sebagaimana yang diajarkan Rasulullah kepada kita. Tidak boleh ada penyimpangan sedikit pun. Sekecil apapun gerakan itu harus sesuai dengan sunnah. Namun yang semestinya juga kita contoh dan tiru pada Nabi bukan sekadar gerakan fisik namun juga gerakan batinnya. Jika beliau batinnya sering bergetar saat membaca surat-surat tertentu, atau pada bacaan-bacaan tertentu, apakah kita juga sudah demikian?

Bukan berarti kita memaksakan diri untuk menggetarkan batin. Juga bukan dengan memaksakan diri untuk menangis, tidak bisa itu. Agar batin bergetar, suasana hati harus khusyu’.

Khusyu’ ialah satu tingkat konsentrasi yang luar biasa tingginya. Ini dicapai lewat kedisiplinan mengikuti tata cara yang telah diatur sedemikian rupa, mulai dari berwudhu, adzan, iqamat, dan seterusnya berdiri untuk shalat, takbir, rukuk, sujud, bacaan-bacaan dalam shalat, yang semuanya mengantar untuk konsentrasi mengingat Allah.

Itulah ruh shalat. Secara ekstrem dapat dikatakan, apa artinya shalat tanpa khusyu’? Apa manfaat shalat yang demikian? Malah dapat dikatakan bahwa yang lebih penting dan utama dalam shalat itu bukan gerakan fisik, namun gerakan batin. Gerakan fisik bisa diganti atau ditiadakan apabila memang tidak mampu. Tapi dzikir kepada Allah tetap harus berjalan, kapanpun juga.

Seorang yang tidak mampu berdiri dikarenakan sakit, bisa mengganti gerakan berdirinya dengan hanya duduk, mengganti gerakan ruku’nya dengan isyarat sedikit membungkuk. Demikian juga sujudnya. Tidak bisa berdiri diperbolehkan duduk. Tidak bisa duduk dengan berbaring dan sebagainya.

Yang tidak bisa diganti adalah gerakan batin. Ini yang mutlak harus ada. Tanpa kehadiran hati, shalat hanya merupakan gerakan mati. Gerak otomatis, bagai patung saja. Jika demikian, apa artinya?

Itulah sebabnya Allah memberi ancaman yang cukup keras kepada kita, dengan kata yang amat pedas, “Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, yaitu mereka yang lalai dalam shalatnya.” (Qs. al-Maa’uun: 4-5)

Jadi ketenangan batin, apalagi janji-janji yang lain terhadap orang yang shalat itu tidak serta merta diberikan Allah begitu saja. Ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi terlebih dahulu. Bagi yang lalai dalam shalatnya bukan saja tidak bakal mendapatkan janji-janji tadi, malah ada ancaman keras dari Allah swt.

Itulah barangkali rahasia, kenapa ummat Islam tidak sukses, padahal mereka telah menjalankan shalat. Semestinya tidak demikian. Andai saja mereka melaksanakan shalat sesuai dengan tuntunan Islam, kemenangan mesti diperolehnya. Allah sendiri berjanji, “Sungguh telah beruntung orang-orang beriman. Yaitu mereka yang khusyu’ dalam shalatnya.” (Qs. Al-Mu’minuun: 1-2)

Rasanya tidak terlalu sulit dipahami bila orang yang itens komunikasinya dengan Allah melalui shalat sebagai sarananya berhasil mencapai kemenangan dan keberhasilan di berbagai sektor kehidupan. Sebab, siapa lagi yang merupakan sumber energi dari semua bentuk kekuatan kalau bukan Allah swt.

Jika kita sudah dekat dengan sumber energi dan sumber kekuatan itu, maka dengan sendirinya kita pasti lincah bergerak, dan tentu saja juga kuat. Dari sana kemenangan pasti didapat. Karenanya tidak salah bila redaksi adzan itu didahului dengan ajakan shalat (hayya alash-shalaah), kemudian disusul dengan ajakan untuk menang (hayya alalfalaah). Memang demikian seharusnya. Shalat kemudian menang.

Rahasia kemenangan itu terletak pada kedekatan kita dengan Allah. Jika kita sudah dekat, artinya komunikasi kita secara vertikal lancar tak tersumbat, melalui shalat wajib dan sunnah, maka kemenangan itu pasti didapat. Allah pasti membantu hamba-Nya yang dikasihi. Masalahnya, sudahkah ada jaminan bahwa kita telah menjadi kekasih-Nya?

Alangkah hebatnya potensi ibadah, khususnya shalat ini. Sayang ummat Islam belum menggalinya sebagai suatu pelajaran yang siap disajikan di kelas, sebagai praktek yang dapat dilaksanakan di lapangan, dan sebagai satu bukti yang dapat dilihat dan disaksikan pengaruh dan dampaknya.

Andaikata shalat ini dikaji secara intensif, dipraktekan sesuai sunnah Nabi di dalam menyedot kekuatan-kekuatan yang dijanjikan Allah, pasti sudah lama nasib ummat Islam tidak seperti ini.


Terus terang kita khawatir apabila potensi shalat diabaikan oleh ummat Islam, kemudian mereka memandang bahwa shalat tidak memiliki arti lagi dalam kehidupan sehari-hari, maka bencana akan datang menimpa. Bukan bencana alam, akan tetapi bencana agama. Mereka tidak mau lagi melirik shalat untuk menenangkan jiwanya, tapi sudah menggunakan cara-cara yang lain. Mereka mencari terapi yang lain untuk mencegah fakhsa’ dan munkar, dengan cara yang tidak diajarkan agama.

Jika shalat sudah tidak dipandang sebagai sesuatu yang potensial lagi, lalu di mana letak keislaman kita? Bukankah shalat sebagai tiang agama? Kalau tiang itu sudah kita anggap tidak bisa lagi menyangga bangunan yang ada, maka bangunan apa yang bisa kita dirikan disana?

“Pokok urusan itu Islam, sedang tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad fi sabilillah.” (HR. Ahmad dan Turmudzi)

Sahabat medianda terkini fenomena yang akhir-akhir ini terjadi, tidak lain karena kita lalai dalam menyodorkan shalat sebagai alternatif terbaik untuk menenteramkan jiwa. Pada saat dunia sedang gelisah seperti sekarang, orang pada sibuk mencari ketenangan. Dengan segala cara mereka ingin dapatkan. Ada yang lari ke kuil atau pertapaan-pertapaan sepi. Ada yang menyepi ke hutan sendirian, Padahal hanya dengan shalatlah yang bisa menjawab semua resah dan gelisah. Kita sodorkan alternatif satu-satunya yang dapat menghilangkan stres dan tekanan jiwa itu.

Semoga informasi diatas dapat memberikan manfaat bagi pembaca semua, dan bisa dijadikan pelajaran berharga mengenai shalat yang tentu dilaksanakan oleh setiap umat muslim. Semoga kita semua termasuk dalam golongan yang menegakan shalat.Aamiin


Sumber:kabarmakkah.com 

Kamis, 29 Desember 2016

Rumah Tangga Tanpa Adanya Problema Adalah Sebuah Kemustahilan Karena Suami Bukan Malaikat Dan Istri Bukan Bidadari

MediandaTerkini – Sahabat Medianda, Sangat mustahil apabila sebuah hubungan suami istri jauh dari problema, karena dua insan yang dipersatukan dengan masing-masing perbedaan akan menciptakan hal baru dalam membangun hidup berumahtangga.

Ibarat seseorang membangun sebuah rumah yang pondasinya terdiri dari bermacam-macam bebatuan, hingga akhirnya menjadi sebuah bangunan yang mampu membuat orang lain takjub.

Suami istri pun juga dituntut sedemikian, dasar perbedaan yang melekat pada pasangan kita akan menjadi sebuah kesempurnaan ketika kita mampu bekerja sama dalam menyikapi sebuah problema yang menghampiri.

Seni “Bertengkar” Dalam Berumah Tangga


Fenomena yang paling tidak bisa dihindari dalam kehidupan berumah tangga adalah pertengkaran, dan bukan dalam hal menari ataupun bermusik saja yang ada peraturan seninya, karena bertengkarpun juga begitu.

Kalau seseorang berkata “Saya Tidak pernah bertengkar dengan suami saya!”.
   
Kemungkinannya ada dua, yakni bisa jadi orang itu belum bersuami dan atau dia tengah berdusta. Bertengkar itu sebenarnya sebuah keadaan diskusi belaka, hanya saja diantarkan dengan muatan emosi. Jika kita tahu etikanya, bertengkar pun kita bisa menjadi hikmah.

Senantiasa Terapkan “3K” Dalam Rumah Tangga, Yaitu Kejujuran, Keterbukaan Dan Kepercayaan



Jangan sampai kita menganggap masalah yang terjadi pada salah satu pasangan kita adalah beban masing-masing, karena dalam sebuah hubungan kita selalu dituntut untuk selalu jujur dan percaya. Untuk apa sebuah kejujuran, keterbukaan dan kepercayaan?

Jawabannya cukup simple, coba saja jika kita hidup tanpa ada saling kejujuran, keterbukaan maupun kepercayaan, mungkin semua orang akan takut untuk membangun sebuah rumah tangga seperti yang kita impikan.

Jangankan membangun rumah tangga, berteman saja mungkin akan sangat menjenuhkan. Apa benar begitu sahabatku?

Hubungan Suami Istri Itu Ibarat Tanaman, Butuh Waktu Untuk Tumbuh Dan Ketika Kita Berhenti Merawatnya Maka Perlahan-lahan Akan Kering Dan Mati




Iya benar hubungan antara suami istri memang ibarat sebuah tanaman, butuh waktu untuk tumbuh dan membesarkannya hingga berbuah. Namun ketika kita sudah mulai jenuh merawatnya akan perlahan-lahan kering dan kemudian mati.



Jika keduanya sudah tak lagi bisa saling percaya, tidak saling menghargai dan tidak saling mensuport satu sama lain, maka yang ada hanya sebuah perselisihan yang berujung sebuah perpisahan.

Jangan Berumah Tangga Seperti Bunga Yang Gugur Ketika Pergantian Musim, Tapi Berumah Tanggalah Seperti Air Sungai Yang Terus Mengalir



Rasa jenuh dalam sebuah hubungan rumah tangga itu adalah hal yang sudah tak asing lagi, persilihan dan kesalah fahaman ialah bumbu agar kita mampu berfikir lebih luas dalam mengambil komitmen.

Ingatlah bahwa cinta itu datang dengan bertemunya dua kepribadian yang berbeda namun selalu saling menyadari dan melengkapi.

Jangan sampai seperti bunga yang gugur disetiap pergantian musim, dimana rasa yang kita miliki adalah musiman, rasa sayang, rasa rindu bahkan rasa butuh pun akan menjadi musiman yang terus berganti-ganti setiap saat, yang pada akhirnya berubah menjadi kebosanan.

Suami Istri Bisa Langgeng Ketika Keduanya Saling Menyadari Kekurangan dan Kelebihan Masing-masing



Hubungan terbaik adalah saat kita saling menyadari kekurangan dan kelebihan pasangan kita masing-masing. Ketika salah satunya mampu membuat akhlaqmu semakin indah, jiwamu makin damai dan hatimu makin bijak adalah hikmah yang sangat luar biasa untuk selalu kita syukuri.

Menegurmu saat taatmu mulai luntur, meski caranya terkadang kurang tepat jangan sampai kamu merasa menyesal. Menasehatimu disaat kamu maksiat terhadap Rabb-mu, dan mampu menjadi pelipur saat semangatmu mulai lebur.

Dialah cinta terbaikmu yang tidak hanya bersamamu didunia, namun berupaya untuk bersamamu hingga kesurga. Seperti apakah hubungan yang dimaksud tersebut?

Yakni sepasang adam dan hawa yang dipersatukan oleh sebuah pernikahan, dan mampu mengubah problema menjadi sebuah barokah, hingga mampu membangun nuansa baru yang hakiki dalam hubungan berumah tangga menuju surga ilahi

Semoga tulisan ini bermanfaat

Sumber : humairoh.com